Rusia memperingatkan risiko konfrontasi militer di tengah keinginan Iran keluar dari perjanjian nuklir 2015. Foto/Istimewa
MOSKOW - Iran semakin berniat untuk meninggalkan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Hal ini semakin membuka jalan bagi runtuhnya kesepakatan nuklir 2015 dan berpotensi memicu konfrontasi militer.
Hal itu diungkapkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, dalam sebuah wawancara.
Pada hari Rabu, Ryabkov mengunjungi Iran untuk mengadakan pembicaraan di Kementerian Luar Negeri. Diplomat itu mengatakan bahwa Rusia telah menyatakan keprihatinannya atas niat Teheran yang semakin kuat untuk meninggalkan kesepakatan itu kepada Iran selama konsultasi.
"Ini mungkin membuka jalan bagi runtuhnya JCPOA dan munculnya situasi kacau, di mana risiko konfrontasi militer akan semakin meningkat," ujar Ryabkov seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (30/5/2019).
Ryabkov juga mengatakan bahwa Amerika Serikat memberikan tekanan besar pada Iran tanpa menawarkan opsi alternatif ke negara Timur Tengah.
"Kita dapat melihat tekanan hebat dari Amerika Serikat terhadap Iran dan (kita dapat melihat) upaya untuk memeras negara ini. Pada saat yang sama, tidak ada agenda positif dan Amerika Serikat tidak menyarankan opsi alternatif. Itu hanya menyatakan, termasuk pada tingkat tinggi, bahwa itu terbuka untuk dialog. Tetapi itu bukan dasar untuk pembicaraan nyata," tutur Ryabkov.
Diplomat itu bersikeras bahwa jika AS bersedia terlibat dalam dialog dengan Iran, ia harus membuat saran tentang apa yang siap ditawarkan Iran sebagai imbalan untuk memulai pembicaraan mengenai persyaratan kesepakatan nuklir baru.
Mei ini menandai peringatan satu tahun penarikan Amerika Serikat dari perjanjian nuklir Iran, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan.
Selama beberapa bulan terakhir, ketegangan antara Teheran dan Washington telah meningkat dengan kedua belah pihak saling memperingatkan tentang kemungkinan konfrontasi militer tetapi mengatakan mereka ingin menghindarinya.
Hal itu diungkapkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, dalam sebuah wawancara.
Pada hari Rabu, Ryabkov mengunjungi Iran untuk mengadakan pembicaraan di Kementerian Luar Negeri. Diplomat itu mengatakan bahwa Rusia telah menyatakan keprihatinannya atas niat Teheran yang semakin kuat untuk meninggalkan kesepakatan itu kepada Iran selama konsultasi.
"Ini mungkin membuka jalan bagi runtuhnya JCPOA dan munculnya situasi kacau, di mana risiko konfrontasi militer akan semakin meningkat," ujar Ryabkov seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (30/5/2019).
Ryabkov juga mengatakan bahwa Amerika Serikat memberikan tekanan besar pada Iran tanpa menawarkan opsi alternatif ke negara Timur Tengah.
"Kita dapat melihat tekanan hebat dari Amerika Serikat terhadap Iran dan (kita dapat melihat) upaya untuk memeras negara ini. Pada saat yang sama, tidak ada agenda positif dan Amerika Serikat tidak menyarankan opsi alternatif. Itu hanya menyatakan, termasuk pada tingkat tinggi, bahwa itu terbuka untuk dialog. Tetapi itu bukan dasar untuk pembicaraan nyata," tutur Ryabkov.
Diplomat itu bersikeras bahwa jika AS bersedia terlibat dalam dialog dengan Iran, ia harus membuat saran tentang apa yang siap ditawarkan Iran sebagai imbalan untuk memulai pembicaraan mengenai persyaratan kesepakatan nuklir baru.
Mei ini menandai peringatan satu tahun penarikan Amerika Serikat dari perjanjian nuklir Iran, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan.
Selama beberapa bulan terakhir, ketegangan antara Teheran dan Washington telah meningkat dengan kedua belah pihak saling memperingatkan tentang kemungkinan konfrontasi militer tetapi mengatakan mereka ingin menghindarinya.
(ian)


0 Comments